Home » Virtualization (Page 2)

Category Archives: Virtualization

SAP XI Installation Part#2


Setelah melakukan step prerequisites check (opsional), silakan lanjutkan ke proses instalasi.

Masuk ke direktori installation master dan set beberapa environment setting, antara lain SAPINST_JRE_HOME, JAVA_HOME, LD_LIBRARY_PATH (karena gw pake Linux), dan umask.

Selanjutnya jalankan file sapinst dan pilih Standard System.

Pilih Custom. (more…)

SAP XI Installation part#1


Berangkat dari iseng aja, kemaren gw mencoba untuk melakukan instalasi SAP XI. Setelah melihat beberapa video dan dokumentasi dari beberapa forum, akhirnya gw download beberapa software yang diperlukan untuk melakukan instalasi SAP XI (SAP Exchange Infrastructure). Yang gw download dan install ini masih versi yang agak lama tapi overall versi baru masih sama.

Beberapa software yang perlu disiapkan (dapat didownload dari SAP Marketplace portal) adalah

  • SAP XI Kernel
  • RDBMS dan client (dalam hal ini saya pake DB2, bisa pake RDBMS lain)
  • Bahasa (Language)
  • SAP XI Installation Master
  • SAP Export untuk ABAP Stack
  • SAP Export untuk Java Stack (jika memakai dual stack)
  • SAP DB2 License (tidak perlu jika memakai DB lain, misal Oracle)

Sekarang step untuk memeriksa prerequisite. (more…)

Step by step instalasi DB2 10.5 FP4 di SLES 11 SP 3


Versi terbaru DB2 10.5 yang disupport oleh SAP saat ini adalah DB2 10.5 FP 4. Berikut step by step instalasi disertai screenshot.

Sebelum melakukan instalasi, siapkan dulu OS-nya (dalam hal ini saya pake SuSE Linux Enterprise Server 11 SP 3). Untuk lebih memperlancar proses instalasi, maka saya lakukan prerequisite check terlebih dahulu.

Hasil prereqcheck :

Start instalasi dengan db2setup. (more…)

Linux Tuning : Memanfaatkan tmpfs


Setelah gw menggunakan fitur zram dalam host linux di notebook yang gw gunakan untuk bekerja sehari-hari dan menggunakan btrfs sebagai file system untuk data, kali ini gw mencoba untuk melakukan tuning performance sekali lagi. Kali ini gw memanfaatkan file system virtual, tmpfs yang secara default sudah disupport oleh kernel Linux.

Sebagaimana  kita tahu bahwa pada beberapa direktori seperti /tmp dan /var/tmp/ adalah direktori temporari yang digunakan oleh sistem Linux untuk menyimpan file dan direktori secara temporary. Pada saat Linux akan di-shutdown, maka direktori temporari tersebut akan di-clear dan dihapus termasuk isi-nya. Nah, berangkat dari pengertian itu, maka akan lebih baik jika direktori dan isi-nya tersebut ditempatkan di RAM. Akses RAM lebih cepat daripada akses ke disk.

Disclaimer : Gw hanya menyarankan untuk digunakan di notebook ataupun desktop. Tidak disarankan digunakan di server karena tuning kali ini belum menyertakan skrip untuk mem-flush / menuliskan isi direktori tersebut ke disk.

(more…)

Review Nakivo Backup and Replication


Salah satu software backup VM yang paling menyita perhatian saat ini adalah Nakivo Backup and Replication (kita sebut saja NBR). NBR ini tersedia dalam installer Windows maupun Linux. NBR sangat mudah diinstall, konfigurasi, maupun penggunaaannya. Sangat intutitif dengan tampilan web.

Selain tersedia untuk versi Free, NBR juga menyediakan versi NFR (Not For Resale). NBR dengan lisensi NFR merupakan versi Enterprise, hanya dibatasi jumlah socket yang disupport, yaitu 2.

Fitur-fitur NBR antara lain : (more…)

Solusi Hyper Converged System Nutanix


Sejak didirikan pada tahun 2009, Nutanix telah berkembang dengan pesat. Hal ini berkat solusi hyperconverged yang ditawarkan. Nutanix sendiri membawa teknologi arsitektur scale out yang digunakan di Google, Facebook, dan Oracle untuk dibawa ke dunia IT level menengah. Perusahaan merupakan yang pertama yang menawarkan infrastruktur penyimpanan dan komputasi sederhana secara radikal untuk implementasi virtualisasi kelas perusahaan tanpa penyimpanan jaringan yang mahal dan rumit (SAN atau NAS).

Didirikan dengan teknik arsitektural yang digunakan dalam sistem infrastruktur inti di Google, Nutanix Complete Cluster’s mengkonversi komputasi dan arsitektur penyimpanan bisa dibesarkan skalanya untuk mengelola petabytesdata dan bersamaan menjalankan ribuan mesin-mesin virtual dan bertujuan memunculkan inovasi di industri virtualisasi mulit miliar dollar AS.

Sejak muncul ke publik di bulan April 2011, Nutanix mengumpulkan $71 juta dalam 3 putaran pendanaan dari top tier VC yang mencakup Kholsa Ventures, Lightspeed Venture Partners, Goldman Sachs, Battery Ventures dan Blumberg Capital. Nutanix telah dinobatkan sebagai “Top 50 Cloud Innovators” Gigaom dan memenangkan penghargaan 2011 Best of VMworld Gold.

Teknologi yang digunakan oleh Nutanix dapat menjalankan hypervisor apapun yang telah menjadi standar industri TI saat ini seperti VMware ESX-i, Microsoft Hyper-V ataupun KVM. Diatas hypervisor-hypervisor inilah, Nutanix Controller VM di-deploy sebagai sebuah virtual mesin. CVM ini yang akan melayani service I/O untuk hypervisor dan VM-VM yang berada diatasnya. Node-node Nutanix membentuk sebuah platform komputasi terdistribusi yang disebut “Nutanix Distributed Filesystem ” (NDFS). NDFS inilah yang akan diberikan ke hypervisor sebagai sebuah NFS, iSCSI, ataupun SMB block. NDFS akan terlihat oleh hypervisor sebagai sebuah array storage. Semua I/O untuk storage array ini akan dihandle untuk bisa memmberikan performance terbaik.

Boosting Veeam Backup & Replication 7 backup performance


Ada kasus menarik saat menggunakan software backup VM yang gw testing. Kebetulan gw pake software backup Veeam Backup & Replication 7 (VBR7). Fitur-fitur VBR7 dapat kalian cari sendiri di google. Banyak kok.

VBR7 memiliki 3 mode transport untuk melakukan backup (Ada 4 sih sebenarnya, tapi yang pertama adalah automatic. Mode automatic sebenarnya hanya memilih salah satu dari 3 jenis mode transport yang tersedia). Tiga mode transport yang disediakan oleh Veeam adalah

  • Direct SAN
  • Virtual Appliance (disebut juga dengan HotAdd)
  • Network (istilah lain disebut NBD a.k.a Network Block Device)

Software backup lain ada yang menambahkan satu lagi jenis, yaitu NBD SSL (mode transport jenis network dengan enkripsi SSL).
(more…)

Software Defined Storage #1


Konsep virtualisasi saat ini semakin menjalar ke berbagai komponen data center. Setelah sebelumnya virtualisasi di sisi server fisik menjadi server virtual. Sekarang konsep virtualisasi juga masuk ke ranah network (“Software Defined Network”) dan Storage (“Software Defined Storage”). Pada posting ini akan dicuplik sedikit perkembangan SDS atau Software Defined Storage. SDS ini semakin berkembang dan semakin panas dengan persaingan antar vendor, baik vendor software virtualisasi, vendor OS, maupun vendor hardware storage.

Apa sebenarnya SDS ? Ada yang mendefinisikan :

Software-defined storage (SDS) is the process of using software-based techniques to create, deploy and manage storage resources and infrastructure. It enables abstracting or separating storage services from hardware devices by using software or programmatic access to extract and manipulate storage resources

Salah satu definisi yang sangat bagus adalah dari Duncan Epping, yaitu “Abstract, Pool, Automate

Salah satu yang memperkenalkan SDS adalah VMware. VMware sendiri sebelumnya dikenal sebagai pemimpin pasar dalam virtualisasi dengan ESX dan vSphere-nya. Saat ini VMware juga memperkenalkan versi awal dari VMware VSAN. Selain VMware, masih banyak yang memperkenalkan konsep SDS, antara lain :

Beberapa dari vendor tersebut malah sudah lama membuat produk kategori SDS ini. Namun, booming SDS baru-baru ini justru karena VMware memperkenalkan VSAN. Beberapa produk tersebut bisa dicoba dengan gratis. Tentu saja ada keterbatasan karena versi free atau versi trial.

Memilih vSCSI Controller untuk guest VM


Pada saat kita membuat sebuah virtual machine di sebuah ESX maka secara default kita akan diberikan vSCSI controller. Biasanya defaultnya adalah LSI Logic SAS atau kadang LSI Logic Parallel. Secara umum, keduanya mencukupi dan kompatibel dengan hampir semua OS guest yang akan diinstall, baik Windows maupun Linux. Jika kita menginginkan vSCSI controller yang lebih mendukung pada IOPS yang tinggi alias high performance, maka sebaiknya kita mempertimbangkan untuk menggunakan VMware Paravirtual SCSI (a.k.a PVSCSI). Secara kasat mata, performance VM akan mengalami peningkatan up to 20% (dari beberapa studi dan eksperimen).

Secara umum, pilihan vSCSI controller sebagai berikut :

Berikut penjelasan untuk masing-masing pilihan SCSI controller :

  • BusLogic – this was one of the first emulated vSCSI controllers available in the VMware platform.  The earliest versions of Windows has this driver available by default which made it easy when installing that particular OS. It wasn’t however as performant as the LSI Logic driver since Windows’ driver was limited to a queue depth of 1, so often one would manually load the LSI Logic driver instead.  While still available and used occasionally (Is anyone still running Win2K?), it should be considered legacy.
  • LSI Logic Parallel (formerly knows as just LSI Logic) – this was the other emulated vSCSI controller available originally in the VMware platform.  Most operating systems had a driver that supported a queue depth of 32 and it became a very common choice, if not the default.
  • LSI Logic SAS – This is an evolution of the parallel driver to support a new future facing standard.  It began to grown popularity when Microsoft required its use for MCSC within Windows 2008 or newer.
  • VMware Paravirtual (aka PVSCSI) – this vSCSI controller is virtualization aware and was been designed to support very high throughput with minimal processing cost and is therefore the most efficient driver. In the past, there were issues if it was used with virtual machines that didn’t do a lot of IOPS, but that was resolved in vSphere 4.1.

Namun ada beberapa yang mesti diingat. PVSCSI memiliki beberapa limitasi :

  • Hot add or hot remove requires a bus rescan from within the guest.
  • Disks with snapshots might not experience performance gains when used on Paravirtual SCSI adapters if memory on the ESX host is over committed.
  • Do not use PVSCSI on a virtual machine running Windows with spanned volumes. Data may become inaccessible to the guest operating system.
  • If you upgrade from RHEL 5 to an unsupported kernel, you might not be able to access data on the virtual machine’s PVSCSI disks. You can run vmware-config-tools.pl with the kernel-version parameter to regain access.
  • If a virtual machine uses PVSCSI, it cannot be part of a Microsoft Cluster Server (MSCS) cluster.

Semoga membantu.

Convert Thick disk to Thin disk using vmkfstools


Ada banyak cara untuk melakukan convert dari thisk disk ke thin disk pada vmware. Salah satu caranya adalah menggunakan vmkfstools bawaan esx.

ESX console commands to convert disk from thick to thin
——————————————————–

VM must be powered off.

1. Use vCenter to see what host the VM to be converted is on and note down disks Datastore location.

2. Log into that hosts ILO remote console as root user (or putty in if you have the access).

3. Convert the original thick .vmdk into a thin one
vmkfstools -i SERVERNAME.vmdk -d thin thinSERVERNAME.vmdk

4. Move original .vmdk flat file out of the way.
mv SERVERNAME-flat.vmdk orig-SERVERNAME-flat.vmdk
5. Move new thin .vmdk flat file into place
mv thinSERVERNAME-flat.vmdk SERVERNAME-flat.vmdk

6. Remove VM from vcenter inventory and add back again otherwise disks do not show as ‘Thin’

7. Check VM boots up and all drives are avaliable

8, Tidy up by deleting the original files

rm thinSERVERNAME.vmdk
rm orig-SERVERNAME-flat.vmdk

Semoga berguna.